Literasi Digital Tidak Hanya Soal Penguasaan Teknologi
Literasi digital tidak hanya soal penguasaan teknologi, tetapi juga menyangkut hak asasi manusia dalam mengakses pendidikan, informasi, dan peluang ekonomi. Hal tersebut ditegaskan oleh diaspora muda Indonesia, Glory Lamria Aritonang, dalam forum kepemimpinan global One Young World.
Sebagai Ambassador One Young World Summit 2025, Glory menyoroti pentingnya inklusi digital untuk mengatasi ketimpangan sosial, khususnya bagi perempuan dan anak muda di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).
Inklusi Digital sebagai Isu Keadilan Sosial
Dalam pemaparannya, Glory menegaskan bahwa literasi digital tidak hanya soal penguasaan teknologi, tetapi merupakan fondasi dalam menciptakan kesetaraan akses.
“Literasi digital bukan hanya tentang kemampuan menggunakan teknologi, tetapi bagian dari hak asasi manusia yang menentukan akses terhadap pendidikan, informasi, dan peluang ekonomi,” ujar Glory.
Menurutnya, kesenjangan digital bukan sekadar persoalan infrastruktur, melainkan masalah struktural yang memengaruhi kesempatan generasi muda untuk berkembang.
One Young World: Forum Pemimpin Muda Global
One Young World dikenal sebagai forum kepemimpinan global yang mempertemukan pemimpin muda dari lebih dari 190 negara. Forum ini kerap dijuluki sebagai “Young Davos” karena menghadirkan tokoh-tokoh dunia dan pemimpin masa depan.
Pada Maret 2026, forum ini akan berlangsung di Munich, Jerman. Dalam ajang tersebut, Glory dipercaya membawa perspektif generasi muda Indonesia di persimpangan teknologi, pendidikan, dan keadilan sosial.
Penunjukannya sebagai ambassador memperkuat pesan bahwa literasi digital tidak hanya soal penguasaan teknologi, tetapi juga tentang menciptakan ekosistem digital yang inklusif.
Latar Belakang Akademik dan Prestasi Internasional
Glory saat ini tengah menempuh Master of Science in Technology Management di Columbia University, Amerika Serikat. Ia juga pernah mengikuti program musim panas di Stanford University dalam bidang Mathematical Statistics and Probability.
Pendekatan lintas disiplin yang dimilikinya menjadi dasar dalam melihat kesenjangan digital dari sudut pandang teknologi, manajemen, dan kebijakan publik.
Sejumlah prestasi internasional turut menguatkan kiprahnya, antara lain:
Peraih medali emas iGEM (International Genetically Engineered Machine) di Boston
Most Outstanding Student Award kategori Riset dan Teknologi dari Kementerian Riset dan Teknologi RI
Pemenang Harvard Project for Asian and International Relations (HPAIR) Business Impact Challenge
Prestasi tersebut menunjukkan komitmen Glory dalam menggabungkan inovasi teknologi dengan dampak sosial yang nyata.
Pengalaman Profesional dan Advokasi Digital
Selain aktif di dunia akademik, Glory memiliki pengalaman profesional di berbagai perusahaan global seperti L’Oréal, TikTok, dan Shopee. Pengalaman lintas sektor ini memperdalam pemahamannya mengenai transformasi digital dan dampaknya terhadap masyarakat.
Ia juga mendirikan ChapterOne Indonesia, sebuah inisiatif sosial yang berfokus pada pemberdayaan digital dan literasi teknologi bagi komunitas pinggiran.
Melalui inisiatif tersebut, Glory terus menyuarakan bahwa literasi digital tidak hanya soal penguasaan teknologi, melainkan bagian dari upaya menciptakan keadilan sosial dan ekonomi.
Literasi Digital sebagai Hak Asasi
Glory menekankan bahwa akses terhadap teknologi seharusnya dipandang sebagai hak dasar, bukan privilese. Tanpa literasi digital yang memadai, masyarakat berisiko tertinggal dalam pendidikan, pekerjaan, dan partisipasi ekonomi.
Pendekatan ini relevan bagi Indonesia yang masih menghadapi tantangan kesenjangan akses teknologi, terutama di wilayah 3T.
Dengan perspektif global dan komitmen advokasi sosial, Glory Lamria berupaya menjembatani teknologi dan keadilan, serta memastikan generasi muda memiliki kesempatan yang setara di era digital.
Kesimpulan
Literasi digital tidak hanya soal penguasaan teknologi, tetapi merupakan hak fundamental yang menentukan akses terhadap pendidikan, informasi, dan peluang ekonomi. Melalui forum One Young World, Glory Lamria Aritonang membawa suara generasi muda Indonesia untuk mendorong inklusi digital sebagai solusi atas ketimpangan sosial.
Langkah ini menjadi pengingat bahwa transformasi digital harus berjalan seiring dengan prinsip keadilan dan pemerataan akses bagi seluruh lapisan masyarakat.




