Kerja Sampingan Melatih AI Jadi Sumber Cuan Fantastis
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuka peluang kerja baru yang sebelumnya tak terpikirkan. Salah satunya adalah pekerjaan melatih AI yang kini bisa menjadi kerja sampingan dengan bayaran fantastis.
Buktinya datang dari Utkarsh Amitabh, pria berusia 34 tahun yang berbasis di Inggris. Ia diketahui mampu menghasilkan US$200 per jam atau sekitar Rp3,34 juta hanya dari pekerjaan sampingan melatih model AI.
Menariknya, pekerjaan ini dijalani Amitabh di tengah jadwal hidup yang sangat padat sebagai penulis, dosen universitas, pendiri sekaligus CEO platform karier global Network Capital, serta mahasiswa PhD di Saïd Business School, Universitas Oxford.
Berawal dari Rasa Ingin Tahu Intelektual
Kesempatan kerja sampingan ini datang dari perusahaan rintisan pelabelan data bernama micro1. Alih-alih tergiur uang semata, Amitabh mengaku menerima tawaran tersebut karena dorongan rasa ingin tahu intelektual.
Menurutnya, peran melatih AI sangat selaras dengan latar belakangnya di bidang strategi bisnis, pemodelan keuangan, dan teknologi. Apalagi micro1 dikenal merekrut para ahli lintas disiplin, mulai dari dokter, pengacara, hingga insinyur.
Amitabh sendiri menyebut dirinya sebagai generalist dengan pengetahuan luas. Ia memiliki gelar sarjana teknik mesin, magister filsafat moral, serta pengalaman lebih dari enam tahun di Microsoft dalam pengembangan bisnis berbasis komputasi awan dan kemitraan AI.
Jam Kerja Fleksibel, Dikerjakan Setelah Anak Tidur
Salah satu keunggulan pekerjaan melatih AI ini adalah fleksibilitas waktu. Amitabh rata-rata bekerja sekitar 3,5 jam setiap malam, biasanya setelah putrinya yang berusia satu tahun tertidur.
Ia menilai pekerjaan ini bukan sekadar tambahan penghasilan, melainkan sarana untuk mengembangkan minat profesionalnya secara mendalam dalam waktu terbatas. Hal inilah yang membuat kerja sampingan melatih AI semakin diminati oleh profesional global.
Total Penghasilan Hampir Rp5 Miliar
Berdasarkan slip gaji yang dikonfirmasi oleh CNBC Make It, Amitabh kini memperoleh US$200 per jam. Sejak Januari, total penghasilannya dari micro1 bahkan hampir menyentuh US$300.000, termasuk bonus penyelesaian proyek.
Meski demikian, Amitabh menegaskan bahwa uang bukan motivasi utama. Ia menilai kompensasi tersebut sebagai bentuk upah yang adil atas pekerjaan yang menuntut keahlian tinggi, analisis kompleks, dan ketelitian ekstrem.
Apa Sebenarnya Tugas Melatih AI?
Melatih AI bukan sekadar memberi perintah sederhana. Prosesnya melibatkan:
Menganalisis masalah bisnis kompleks
Memecah persoalan menjadi skenario kecil yang dapat dipahami mesin
Menguji respons AI terhadap berbagai perintah
Mengidentifikasi kesalahan, bias, dan nuansa yang terlewat
Menyempurnakan dataset agar hasil semakin akurat
Proses ini sering kali bersifat trial and error dan bisa memakan waktu berjam-jam untuk satu set masalah. Karena itu, pekerjaan ini menuntut ketelitian tinggi, logika tajam, dan pemahaman mendalam tentang konteks manusia.
Peran Manusia Tetap Krusial di Era AI
Menurut micro1, jaringan pakar manusia seperti Amitabh menjadi tulang punggung kualitas data AI. Model AI modern disebut sudah menyerap sebagian besar pengetahuan publik, sehingga kemajuan berikutnya sangat bergantung pada kontribusi para ahli.
Daniel Warner, Kepala Pemasaran micro1, menyebut “data manusia” dari para pakar inilah yang memungkinkan AI memberikan hasil terbaik bagi laboratorium AI besar dan perusahaan Fortune 100.
Apakah AI Akan Menggeser Pekerjaan Manusia?
Pertanyaan besar pun muncul: apakah melatih AI justru akan mengancam karier manusia di masa depan?
Amitabh menyebut ini sebagai “pertanyaan bernilai triliunan dolar.” Ia memposisikan diri sebagai realis teknologi—mengakui akan ada disrupsi dan hilangnya sejumlah pekerjaan, namun juga optimistis AI akan menciptakan peluang baru.
Laporan World Economic Forum bahkan memprediksi AI berpotensi menciptakan hampir 80 juta lapangan kerja baru pada 2030.
Kolaborasi Manusia dan Mesin Jadi Kunci
Bagi Amitabh, manusia dan mesin tidak berada dalam hubungan saling menggantikan, melainkan simbiosis. Pengetahuan bukan sumber daya terbatas, dan kemajuan AI justru bisa mendorong manusia untuk terus belajar, meningkatkan keterampilan, serta berpikir lebih kritis.
Ia menegaskan bahwa ketakutan terhadap “kiamat AI” seharusnya diubah menjadi motivasi untuk beradaptasi dan berkembang di era digital.
Kesimpulan
Kisah Utkarsh Amitabh menunjukkan bahwa kerja sampingan melatih AI bukan hanya menghasilkan cuan besar, tetapi juga membuka jalan karier baru di masa depan. Dengan keahlian, rasa ingin tahu, dan kesiapan belajar, profesi di bidang AI dapat menjadi peluang emas di era transformasi digital global.




