Tantangan Media Digital di Era Influencer dan AI
Tantangan media digital semakin kompleks seiring pesatnya transformasi teknologi dan perubahan perilaku audiens. Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) menyoroti pentingnya kesetaraan dalam ekosistem digital agar industri media tetap berkelanjutan.
Saat ini, lanskap informasi di Indonesia mengalami pergeseran besar. Media arus utama menghadapi tekanan akibat disrupsi digital, penurunan trafik, serta melemahnya pendapatan. Di sisi lain, influencer muncul sebagai kekuatan baru dengan jangkauan luas dan tingkat keterlibatan tinggi.
Perubahan Lanskap Informasi dan Peran Influencer
Dalam forum “Diseminasi Riset Influencers dan Keberlanjutan Media di Indonesia” yang digelar AMSI bersama BBC Media Action dan didukung IDN Times, para pembicara menyoroti dinamika antara media dan influencer.
Ketua Umum AMSI, Wahyu Dhyatmika, menegaskan bahwa keberlanjutan jurnalisme sangat bergantung pada fondasi ekonomi dan tata kelola yang kuat.
Perkembangan teknologi seperti AI membuka peluang baru bagi kreator berita. Namun, jurnalisme berkualitas tetap membutuhkan model bisnis yang sehat dan sumber pendapatan berkelanjutan.
Pentingnya Kesetaraan dalam Ekosistem Digital
AMSI menekankan bahwa kesetaraan antara media dan platform teknologi menjadi faktor penting. Keterlibatan platform digital, termasuk AI, harus disertai mekanisme yang adil, seperti kompensasi atas penggunaan konten berita.
Hal ini bertujuan menjaga keberlangsungan industri media di tengah dominasi platform digital global.
Kolaborasi Jadi Kunci Masa Depan Media
Country Director Rachael McGuinn menilai perubahan perilaku audiens, khususnya generasi muda, menuntut pendekatan kolaboratif.
Kini, banyak masyarakat mengakses informasi melalui media sosial. Oleh karena itu, kolaborasi antara media dan kreator konten menjadi penting agar informasi tetap kredibel.
Research Manager Rosiana Eko menambahkan bahwa media dan influencer memiliki kekuatan berbeda namun saling melengkapi. Media unggul dalam verifikasi dan kredibilitas, sementara influencer kuat dalam engagement.
Ketimpangan dan Etika dalam Dunia Influencer
Dari sisi akademik, Ika Idris mengungkap adanya ketimpangan dalam ekosistem influencer, terutama terkait sumber pendanaan dan relasi kekuasaan.
Influencer yang pro-pemerintah cenderung memiliki pendapatan lebih stabil, sementara yang kritis menghadapi tantangan keberlanjutan.
Ia juga membagi praktik influencer menjadi dua kategori, yaitu clientelism (hubungan transaksional) dan grassroots activism (berbasis ideologi). Keduanya tetap memiliki potensi bias dalam penyampaian informasi.
Media Tetap Jadi Pilar Demokrasi
GM Digital Content Tribun Network, Yulis Sulistyawan menegaskan bahwa kepercayaan publik adalah modal utama media.
Berbeda dengan influencer, media harus melalui proses verifikasi, cek fakta, dan konfirmasi sebelum mempublikasikan informasi. Hal ini membuat media tetap relevan sebagai pilar demokrasi.
Namun, muncul fenomena baru seperti wefluencer—individu tanpa kompetensi jurnalistik yang bebas memproduksi konten. Kondisi ini memicu inflasi konten dan meningkatkan risiko disinformasi.
Kolaborasi Media dan Influencer sebagai Solusi
Co-founder Beecomms Indonesia, Rieke Amru, menilai media perlu mengubah pendekatan dengan tidak lagi melihat influencer sebagai kompetitor.
Sebaliknya, kolaborasi menjadi strategi yang lebih relevan. Media tetap fokus pada kualitas konten, sementara influencer dapat membantu memperluas jangkauan informasi.
Selain itu, peningkatan kapasitas influencer dalam aspek teknis dan etika juga menjadi langkah penting.
Tantangan Polarisasi dan Inflasi Konten
Founder Mari Kita Bahas, Ahmad Alimuddin, menyoroti polarisasi narasi publik yang semakin tajam.
Sebagian konten cenderung terlalu pro-pemerintah, sementara lainnya terlalu kritis tanpa memberikan perspektif seimbang. Kondisi ini diperparah dengan fenomena inflasi konten yang membuat publik kesulitan membedakan informasi yang benar.
Kesimpulan: Menjaga Kualitas Informasi Publik
Tantangan media digital tidak hanya soal persaingan, tetapi juga menjaga kualitas informasi publik. Media harus kembali pada esensinya sebagai penyedia informasi akurat dan terverifikasi.
Di sisi lain, influencer perlu mengedepankan tanggung jawab etis dalam menyampaikan informasi.
Kolaborasi antara media dan influencer menjadi solusi utama untuk menciptakan ekosistem digital yang sehat, kredibel, dan berkelanjutan.



