Telkomsel Ungkap Potensi Ekonomi Digital di Era Society 5.0
Potensi ekonomi digital di era Society 5.0 menjadi sorotan utama Telkomsel dalam menghadapi transformasi digital nasional. Konsep Society 5.0 yang berpusat pada manusia dan berbasis teknologi dinilai sebagai fondasi penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.
Direktur Utama Telkomsel, Nugroho, menjelaskan bahwa Society 5.0 berbeda dengan Revolusi Industri 4.0. Jika revolusi industri berfokus pada otomatisasi mesin, maka Society 5.0 menempatkan manusia sebagai pusat inovasi dengan dukungan teknologi digital.
Society 5.0 dan Transformasi Ekonomi Digital
Konsep Society 5.0 menggabungkan cyberspace (ruang siber) dan physical space melalui teknologi digital seperti konektivitas, Internet of Things (IoT), artificial intelligence (AI), serta komputasi awan.
Menurut Nugroho, integrasi teknologi tersebut menjadi kunci dalam memaksimalkan potensi ekonomi digital di era Society 5.0.
“Ekonomi digital Indonesia saat ini masih berada di angka sekitar 8 persen. Target pemerintah adalah mencapai 20 persen pada 2045,” ujarnya dalam Event Trilogi Pitching, Driving Change Series 6 di Universitas Trilogi.
Optimisme tersebut didukung oleh pertumbuhan industri telekomunikasi nasional, termasuk kontribusi Telkom Group terhadap kapitalisasi pasar BUMN Indonesia yang mencapai Rp112 triliun.
Perbandingan Indonesia dengan Negara Lain
Dalam paparannya, Nugroho menyoroti bahwa Indonesia masih tertinggal dibandingkan beberapa negara di kawasan Asia.
Sebagai contoh, kontribusi ekonomi digital terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Vietnam telah mencapai sekitar 16 persen. Sementara Singapura, meski minim sumber daya alam, mampu mengoptimalkan teknologi digital sebagai penggerak utama ekonominya.
Hal ini menunjukkan bahwa potensi ekonomi digital di era Society 5.0 di Indonesia masih sangat besar dan perlu dioptimalkan melalui strategi yang terintegrasi.
Pilar Penumbuhan Ekonomi Digital 3+1
Telkomsel mengungkapkan bahwa penguatan ekonomi digital bertumpu pada empat pilar utama atau konsep 3+1, yaitu:
Aplikasi
Perangkat
Konektivitas
Talenta digital
Keempat pilar tersebut harus saling terhubung dan mendukung sektor lainnya agar ekosistem digital dapat berkembang secara berkelanjutan.
Konektivitas yang kuat menjadi fondasi utama, sementara talenta digital memastikan inovasi terus berjalan. Tanpa sumber daya manusia yang kompeten, potensi ekonomi digital di era Society 5.0 tidak akan tercapai secara optimal.
Infrastruktur dan Ekosistem Teknologi sebagai Penggerak
Pertumbuhan ekonomi digital juga ditopang oleh infrastruktur dan ekosistem teknologi yang memadai. Infrastruktur digital mendukung sektor manufaktur dalam meningkatkan efisiensi dan nilai tambah produk.
Selain itu, perkembangan teknologi seperti cloud computing dan AI membuka peluang besar bagi lahirnya inovasi baru di berbagai sektor industri.
Ledakan aplikasi digital (application boom) serta pertumbuhan kreator konten dan pasar digital turut mempercepat distribusi produk dan layanan secara lebih efisien.
Semua faktor ini memperkuat potensi ekonomi digital di era Society 5.0 yang semakin terintegrasi dengan kehidupan masyarakat.
Peran Ekonomi Digital dalam Pendidikan dan Pembelajaran
Tidak hanya sektor bisnis, ekonomi digital juga berdampak signifikan pada sektor pendidikan. Akses materi pembelajaran kini dapat dilakukan secara daring, memperluas jangkauan edukasi hingga ke wilayah terpencil.
Transformasi ini memperlihatkan bagaimana teknologi digital tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Dengan dukungan konektivitas dari Telkomsel dan Telkom Group, transformasi pendidikan digital menjadi salah satu langkah strategis dalam memaksimalkan potensi ekonomi digital di era Society 5.0.
Kesimpulan
Potensi ekonomi digital di era Society 5.0 sangat besar dan menjanjikan bagi Indonesia. Dengan konsep yang berpusat pada manusia dan teknologi, integrasi AI, IoT, cloud computing, serta konektivitas digital menjadi fondasi utama menuju target kontribusi 20 persen terhadap PDB pada 2045.
Melalui penguatan infrastruktur, pengembangan talenta digital, serta sinergi lintas sektor, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengejar ketertinggalan dan menjadi kekuatan ekonomi digital di kawasan Asia.




