Registrasi SIM Berbasis Biometrik Jadi Solusi Keamanan Digital
Registrasi kartu SIM berbasis biometrik dinilai sebagai solusi efektif untuk mengatasi berbagai masalah keamanan digital. Asosiasi Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) menilai teknologi biometrik mampu meminimalisasi praktik pemindaian ilegal (scanning) serta penyalahgunaan identitas dalam proses registrasi kartu seluler.
Ketua Umum ATSI, Dian Siswarini, menjelaskan bahwa metode biometrik jauh lebih aman dibandingkan registrasi berbasis dokumen identitas konvensional seperti KTP. Menurutnya, sistem lama masih memiliki celah manipulasi data yang dapat dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab.
“Kalau biometrik tidak mungkin bisa di-cloning. Sementara KTP, fotonya masih bisa diganti atau disalahgunakan. Biometrik benar-benar menggambarkan identitas seseorang,” ujarnya.
Keunggulan Registrasi SIM Biometrik Dibanding Metode Konvensional
Registrasi SIM biometrik menawarkan sejumlah keunggulan yang signifikan, antara lain:
Tingkat Keamanan Lebih Tinggi
Teknologi biometrik menggunakan data unik seperti sidik jari atau wajah sehingga sulit dipalsukan. Hal ini membuat risiko penyalahgunaan identitas menjadi jauh lebih kecil.
Mengurangi Kejahatan Digital
Dengan identitas yang tervalidasi secara biometrik, potensi kejahatan digital seperti penipuan, spam, dan penyalahgunaan nomor telepon dapat ditekan.
Proses Registrasi Lebih Praktis
Jika sebelumnya pelanggan harus mengisi berbagai data seperti NIK dan informasi pribadi lainnya, kini registrasi dapat dilakukan cukup dengan KTP dan verifikasi biometrik.
Registrasi SIM Biometrik Bisa Diakses dari Berbagai Kanal
ATSI memastikan bahwa proses registrasi SIM berbasis biometrik dirancang agar mudah diakses oleh seluruh masyarakat, termasuk di daerah.
Registrasi dapat dilakukan melalui berbagai kanal, seperti:
Website resmi operator seluler
Akses melalui ponsel
Gerai atau outlet resmi operator
Prosesnya pun sangat cepat, hanya membutuhkan waktu sekitar 30 detik.
“InsyaAllah tidak menyusahkan, karena prosesnya sangat singkat. Bahkan lebih mudah dibandingkan sebelumnya,” tambah Dian.
Data Biometrik Tidak Disimpan Operator Seluler
Terkait kekhawatiran masyarakat tentang keamanan data pribadi, ATSI menegaskan bahwa data biometrik tidak disimpan oleh operator seluler.
Data biometrik pelanggan disimpan di database Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil), sementara operator hanya melakukan validasi data.
Langkah ini dinilai penting untuk menjaga keamanan dan kerahasiaan data pribadi masyarakat.
Faktor yang Mempengaruhi Kecepatan Internet di Indonesia
Selain membahas registrasi SIM biometrik, Dian juga menyoroti faktor-faktor yang memengaruhi kecepatan internet di Indonesia.
Beberapa faktor utama meliputi:
Teknologi jaringan (2G, 3G, 4G, hingga 5G)
Ketersediaan spektrum frekuensi
Biaya penyediaan layanan
Infrastruktur jaringan
Meski jaringan 5G telah tersedia, pemanfaatannya belum optimal karena keterbatasan spektrum. Namun, harga layanan internet di Indonesia dinilai masih kompetitif dibandingkan negara lain di kawasan.
Kesimpulan
Registrasi SIM berbasis biometrik dinilai sebagai langkah strategis untuk meningkatkan keamanan digital di Indonesia. Teknologi ini tidak hanya mampu mengurangi penyalahgunaan identitas, tetapi juga mempermudah proses registrasi bagi masyarakat.
Dengan dukungan sistem yang siap dan jaminan keamanan data, registrasi SIM biometrik berpotensi menjadi standar baru dalam layanan telekomunikasi nasional.



